Lembaga Kesejahteraan Sosial Berbasis
Mahasiswa (LKS-BMh) merupakan lembaga inovatif pertama di Indonesia karena
belum ada kegiatan mahasiswa yang concern
rehabilitasi sosial, perlindungan sosial, jaminan sosial, bimbingan dan
penyuluhan sosial, serta pemberdayaan sosial berbasis mahasiswa untuk mahasiswa
dan masyarakat. Tindaklanjut 7 peserta Workshop Kepemimpinan yang diadakan Dekan
FUHum Bulan November 2017 yakni komitmen merintis LKS-BMh sekaligus mewujudkan
ide Bapak Mohammad Masrur, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, tentang upaya inovatif
mahasiswa Aqidah Filsafat Islam (AFI) kepada UIN Walisongo Jawa Tengah.
Sebagai Dekan FUHum, Bapak Mukhsin
Jamil selalu mendukung mahasiswanya berkarya, asalkan itu hal positif dan
bermanfaat bagi masyarakat. Berawal dari kegiatan LKS-BMh di Panti Rehabilitasi
Sosial Sanggar Inklusi “Mutiara Bunda” di Sukoharjo, Surakarta tanggal 21 April
2018 bersama mahasiswa Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) Fakultas Dakwah dan
Komunikasi (FDK) angkatan 2015 didampingi Bapak Sadiman Al Kundarto. “Mahasiswa
filsafat adalah pemikir, prospeknya perencanaan/pembangunan. Sedangkan selain
filsafat sebagai teknisi/pelaksana” dijelaskan Bapak Sadiman saat pembukaan.
Beliau sebagai dosen BPI berharap mahasiswanya yang sudah mengenalnya
bertahun-tahun bisa semangat belajar didalam maupun luar kelas dan terinspirasi
dari kegigihan perintis LKS-BMh, yang hanya mengenal beliau 2 jam tapi langsung yakin dan berani ambil resiko!
Tujuan kami mengunjungi Sanggar
Inklusi Ibu Emi Dwi Astuti tentu bukan sekadar pindah kelas. Kami melihat Ibu
Sarjana Ekonomi ini tulus merehabilitasi anak-anak disabilitas dan mengedukasi
orangtuanya agar tidak malu memiliki anak berkebutuhan khusus. Sejak tahun
2014, beliau berhenti menjadi pengusaha karena bangkrut dan ‘banting stir’
menjadi relawan sosial. “Berkeliling ke 14 desa di Kecamatan Gatak” kata Ibu Emi
ketika ditanya langkah pertama beliau mendapatkan anak disabilitas yang ingin
dirawat. Panas terik dan kehujanan beliau terjang demi tujuan dunia akhirat, tak menyoal duniawi saja seperti saat beliau menjadi pengusaha. Beliau hanya
membawa uang Rp 250.000 untuk berkeliling Kecamatan Gatak dan sosialisasi
adanya sanggar inklusi, mendapat respon baik dari Ibu Camat dengan menyediakan terapis bagi penyandang disabilitas.
Selain terinspirasi dari perjuangan
Ibu Emi, kami memahami bahwa dinamakan sanggar inklusi agar semua orang merasa
berhak bergabung. Ibu Emi juga sempat khawatir jika dinamakan yayasan, barangkali
akan menurunkan semangat para orangtua yang ingin melihat anak-anaknya bahagia
dan berkarya karena terkendala biaya. Harapan Ibu Emi tertuang dalam nama “Mutiara
Bunda” yang berarti anak-anak disabilitas yang mendapat rehabilitasi menjadi mutiara yang sangat berharga
dalam hidup orangtuanya dan tak ternilai jika dibandingkan dengan siapapun.
Saat itu matahari hampir tenggelam,
kami baru sampai di Kampus 3 dan para mahasiswa BPI berhamburan keluar bus.
Mereka saling berjabat tangan untuk kembali ke pondok atau kos masing-masing. Kenangan
paling berkesan adalah keramahan dan mereka mendengarkan tujuan kami mendirikan
LKS-BMh dan secara terbuka mereka mau menyukseskan deklarasi dan kegiatan-kegiatan
LKS-BMh.
![]() |
| Penyerahan kenang-kenangan untuk Ibu Emi |
![]() |
| Foto bersama perwakilan Ibu Camat Gatak, Ibu Emi, para terapis dan mahasiswa UIN Walisongo |
![]() |
| Perintis LKS-BMh |



Komentar
Posting Komentar