Perempuan dan Tiga Tungku Kompor : Tentang Membakar Mimpi, Menghidupi Rumah, dan Menjaga Diri Tetap Utuh
Perempuan dan Tiga Tungku Kompor : Tentang Membakar Mimpi, Menghidupi Rumah, dan Menjaga Diri Tetap Utuh
“Hidup perempuan di era digital itu seperti
kompor tiga tungku: Ada api untuk karier, api untuk impian pribadi, dan api
untuk menjaga kesehatan mental, namun gasnya hanya satu. Jika semua dinyalakan
terus, bisa-bisa kamu yang terbakar.”
Kalimat tersebut mungkin terdengar seperti
humor receh yang sering berseliweran di linimasa media sosial. Namun, itulah
gambaran nyata hidup perempuan muda saat ini yang mereka jalani. Mereka yang
terlahir di antara generasi milenial akhir dan Gen Z hidup di tengah
ketidakpastian ekonomi, kompetisi karier yang ketat, ekspektasi keluarga yang
tinggi, dan tekanan media sosial yang seolah menuntut selalu tampil sempurna. Kenyataan
ini menunjukkan bahwa sebagian perempuan muda tumbuh dalam tekanan berlapis
dari berbagai arah ekonomi, karier, keluarga, hingga sosial yang membuat mereka
seolah-olah hidup hanya untuk memenuhi tuntutan dan ekspektasi. Akibatnya,
mereka kerap kehilangan ruang untuk tumbuh dan berkembang sebagai manusia
seutuhnya. Mereka terbiasa hidup dalam tekanan hingga cenderung menunggu “lampu
hijau” dari luar seperti validasi dari media sosial, pengakuan dari atasan,
atau restu dari keluarga untuk merasa layak melangkah. Akibatnya, mereka tidak
diberi ruang untuk berkembang sebagai manusia seutuhnya. Inilah yang disebut
sebagai geprek generation, generasi yang terus-menerus ditekan dari
berbagai arah, sampai hampir kehilangan jati diri. Namun, dibalik tekanan hidup
perempuan muda tersebut muncul semangat baru untuk tetap tumbuh, tetap kuat,
dan tetap berarti. Mereka mulai menyadari bahwa bertahan hidup saja tidak
cukup. Era digital yang serba cepat dan kompleks menuntut perempuan untuk mastering digital future, menguasai
masa depan digital bukan hanya dengan kecakapan teknologi tetapi juga dengan
ketahanan mental dan emosional.
Geprek Generation dan Tekanan 3T: Teknologi, Tuntutan, dan Tren
Tiga kata yang menggambarkan hidup perempuan
muda saat ini adalah teknologi, tuntutan, dan tren. Teknologi mengharuskan
mereka untuk terus belajar dan menyesuaikan diri, mulai dari tools
kerja, algoritma media sosial, hingga kecerdasan buatan. Berdasarkan survei di lingkar Wewaw Mentorship 2025 terhadap
perempuan muda berusia 21–27 tahun dengan jumlah 24 responden menghasilkan data
bahwa, tantangan terbesar mereka dalam menguasai dunia digital secara mindful
adalah kelelahan mental akibat multitasking antara karier dan peran domestik.
Hal ini menguatkan fakta bahwa tekanan datang bukan hanya dari dunia kerja tetapi
juga dari ekspektasi rumah tangga dan sosial. Namun tuntutan selalu datang dari
berbagai arah, keluarga yang berharap anak perempuan menjadi sosok serba bisa,
dunia kerja yang kompetitif dan masyarakat yang masih menggenggam standar ganda
pada perempuan. Sementara tren digital, dari produktivitas ekstrem hingga citra
hidup “aesthetic”, menjadi tekanan tersendiri yang membuat banyak
perempuan merasa tidak pernah cukup. Mereka terus dituntut untuk sempurna, hingga
lupa bahwa mereka juga memiliki impian, minat, dan kebutuhan untuk menjaga diri
mereka sendiri. Mereka terlena oleh tuntutan dunia, namun lupa bahwa mereka
terlahir sebagai manusia, bukan sebagai yang diharapkan oleh orang lain.
Mindfulness :
Jalan Tengah di Tengah Kegilaan
Mindfulness atau
kesadaran penuh adalah kemampuan untuk hadir secara utuh pada momen kini, tanpa
menghakimi, tanpa terburu-buru. Penelitian oleh Kabat-Zinn (2003), menyatakan
bahwa praktik mindfulness terbukti mampu meningkatkan fokus, menurunkan
stres, serta memperkuat kemampuan membuat keputusan. Ketiga hal ini adalah
pondasi penting bagi kepemimpinan masa depan terutama bagi perempuan yang harus
memainkan banyak peran sekaligus. Bayangkan seorang perempuan muda memiliki
berbagai peran dimulai menjadi pekerja, mengurus rumah, menjadi pengasuh emosi
bagi orang terdekatnya, sembari terus memperbarui CV-nya, menghadiri pelatihan
daring, dan menjaga persona digitalnya tetap “on-brand”. Tetapi hasil
akhirnya, Ia merasa hampa dengan kegiatan rutin serta kehilangan makna tujuan
hidupnya.
Survei yang sama
menyatakan bahwa sebagian besar responden menyebut “Menjaga kesehatan mental
dari informasi berlebih” sebagai prinsip mindfulness yang paling penting
untuk diterapkan di dunia digital. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan digital
bukan hanya soal produktivitas, tapi juga soal over informasi dan over
eksposur. Seperti bambu cina, mereka tampak diam selama
bertahun-tahun memperkuat akar, memperbarui tunas dalam diam lalu tiba-tiba
menjulang tinggi. Namun, di balik pertumbuhan itu, mereka menumpuk tekanan demi
tekanan dari tuntutan yang terus datang. Semua beban itu mengendap menjadi
gundukan yang bisa meledak kapan saja dan tak ada yang tahu apakah mereka bisa
selamat atau tidak, semuanya tergantung pada seberapa kuat mereka bertahan. Akan
tetapi dengan mindfulness, setiap keputusan menjadi lebih sadar, setiap
jeda menjadi ruang pemulihan, dan setiap langkah menjadi bagian dari perjalanan
bermakna.
Mastering Digital Future Tidak Hanya Soal Skill
Berdaya secara digital bukan hanya tentang
bisa menggunakan Canva, Excel, atau Google Ads. Mastering digital future
berarti mampu mengambil alih kendali atas kehidupan digital, tahu kapan aktif,
tahu kapan rehat, tahu kapan berbicara, tahu kapan diam, tahu kapan produktif,
tahu kapan pulih.
Ketika ditanya tentang bagaimana teknologi
bisa mempercepat pemberdayaan perempuan, mayoritas menyebutkan peluang entrepreneurship perempuan melalui media digital dan akses
pendidikan daring.
Ini membuktikan bahwa meski dihadapkan dengan tekanan, perempuan muda tetap
memandang teknologi sebagai alat pemberdayaan asal digunakan dengan kesadaran.
Seorang pemimpin perempuan masa depan bukanlah mereka yang paling sibuk,
melainkan mereka yang paling sadar akan arah dan nilainya. Mereka tidak
kehilangan kemanusiaannya dalam proses menjadi profesional.
Dari Lelah Menjadi Lantang: Mindfulness Menghidupkan Empowerment
Empowerment
perempuan seringkali dibingkai dalam berbagai kemudahan hal akses seperti akses
pendidikan, akses teknologi, akses pekerjaan. Namun dalam konteks geprek
generation, empowerment juga berarti keberanian untuk berhenti,
refleksi, dan memilih arah hidup yang sesuai dengan nilai diri. Ketika seorang
perempuan mampu berkata, “Aku memilih untuk tidak ikut-ikutan tren ini karena
tidak sesuai dengan visiku,” atau “Aku butuh jeda agar bisa kembali utuh,” maka
itulah wujud empowerment sejati.
Berdasarkan survei di lingkar Wewaw
Mentorship 2025 terhadap 24 responden perempuan berusia 21-27 tahun mengasilkan
data sebanyak 80% responden sangat setuju penguasaan teknologi tanpa mindfulness
bisa menjadi pedang bermata dua. Hal ini menunjukkan kesadaran kolektif bahwa
menjadi cakap digital saja tidak cukup dibutuhkan, perlu memiliki ketahanan
mental dan keseimbangan emosional agar tidak terseret dalam arus digital yang
tak pernah berhenti. Lebih jauh lagi, saat ditanya kontribusi apa yang ingin
mereka berikan dalam komunitas mindful, mayoritas responden memilih
untuk membangun ruang aman secara daring (safe space online) dan menjadi
mentor keterampilan digital bagi sesama perempuan. Hal ini mencerminkan
keinginan kuat untuk tumbuh bersama bukan dalam kompetisi, tetapi dalam
kolaborasi. Mereka tidak ingin hanya berhasil seorang diri, melainkan ingin
menciptakan ruang tumbuh yang saling mendukung dan menguatkan.
The Next Female Leaders
Pemimpin perempuan masa depan adalah
perempuan yang bisa menyatukan keterampilan digital, kesadaran diri, dan
kepekaan sosial. Mereka memimpin bukan hanya dengan kepala, tetapi juga dengan
hati. Mereka tidak hanya menggerakkan orang lain, tetapi juga merawat diri sendiri.
Pemimpin terlahir dari keberanian untuk melihat luka, mengolahnya menjadi
pelajaran, dan membagikannya sebagai kekuatan. Artikel ini disusun merupakan
bagian dari Proyek Akhir Mentorship WEWAW 2025, sebuah inisiatif dari komunitas
Women Empower Women At Work (WEWAW) yang mendorong perempuan muda untuk
mengenali potensi diri, mengasah kepemimpinan, dan menghadapi dunia digital
dengan kesadaran penuh. Karya ini diharapkan membantu para calon pemimpin
perempuan dapat terbentuk untuk berdampak pada pengembangan diri, kepemimpinan,
dan literasi digital untuk menciptakan pemimpin perempuan masa depan yang
sadar, tangguh, dan kolaboratif.
Beberapa Tips untuk Tetap Mindfullnes:
1. Kenali
dirimu : Sebelum memimpin orang lain, pastikan kamu mengenal siapa dirimu, apa
nilai dan tujuan hidupmu.
2. Praktikkan mindfulness
: Luangkan waktu untuk hadir dalam setiap momen, dan jangan terbawa arus
kehidupan yang hanya berfokus pada pencapaian eksternal.
3. Tahu kapan harus
berhenti : Jangan takut untuk rehat. Perempuan yang kuat tahu kapan mereka
perlu mundur untuk menjaga kesehatan mental dan fisik.
4. Jaga keseimbangan
: Prioritaskan keseimbangan antara pekerjaan, impian pribadi, dan waktu untuk
diri sendiri.
5. Tingkatkan kecakapan
digital dengan kesadaran : Kuasai teknologi, namun jangan biarkan teknologi
menguasaimu. Gunakan dengan bijak, untuk menunjang produktivitas yang sehat.
6. Bangun jejak
yang bermakna : Fokus pada pencapaian yang sesuai dengan visi hidupmu, bukan
semata-mata untuk memenuhi ekspektasi sosial.
7. Rayakan
setiap hasil kecil yang telah kamu kerjakan
8. Berkumpul
dan berbagi dengan membentuk wadah komunitas seperti “Manusia Bersama”
mendengarkan setiap curhatan.
Hidup tidak selalu bisa dijalani dengan menyalakan semua tungku sekaligus, apalagi jika sumber energinya hanya satu yakni diri sendiri. Layaknya memasak berbagai hidangan di satu tungku, kita perlu tahu mana yang harus dimasak lebih dulu, dan kapan harus mengurangi api agar hasilnya tetap baik. Begitu juga dalam hidup, bukan berarti kita harus menghentikan salah satu peran, tapi belajar mengatur prioritas agar semuanya tetap berjalan dengan ritme yang seimbang. Perempuan yang mampu mengenali kapasitas dirinya adalah perempuan yang akan tetap menyala, tanpa harus kehabisan

Komentar
Posting Komentar